Minuman Coklat Gratisan

WP_20160526_13_17_47_Pro.jpg

Beberapa waktu yang lalu sebelum Ramadhan, topik di tabloidku adalah tentang waralaba coklat. Sekilas hanya dua bren yang aku ingat, yaitu nyoklat klasik dan coklat klasik. Keduanya selama ini sering ku amati memang selalu ramai. Tapi untuk yang nyoklat klasik, bren ini memiliki outlet lebih banyak ketimbang coklat klasik. Bayangkan saja di sekitaran kota Banyuwangi saja, bren ini setidaknya sudah memiliki 4 buah outlet. Ini belum lagi di Banyuwangi bagian selatan. Karena lokasi peliputanku ada di kota dan sekitarnya. Maka hanya informasi di sekitar kota saja yang aku dapatkan.

Pesatnya perkembangan waralaba minuman cokelat di kotaku bukan tanpa sebab, karena tren para anak muda sekarang beralih ke cokelat. Dengan pesatnya pasar minuman cokelat di kota Gandrung sendiri, membuat para pemilik bisnis ini saling berlomba-lomba, mereka menunjukkan inovasi rasa terbaik dari minumannya.

Setelah bertanya-tanya di outlet nyoklat klasik, aku pun beralih ke Rogojampi. Sebuah kecamatan yang berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat kota Banyuwangi. Disana aku temui pengelola waralaba coklat klasik. Dan ternyata waralaba cokelat klasik di kotaku diusung oleh Infik Farida. Outlet milik ibu dua orang anak ini adalah satu-satunya outlet coklat klasik di Banyuwangi.

Wanita yang akrab disapa Iin tersebut, sempat bercerita tentang promo yang dilakukannya. Dari 300 cup minuman coklat yang ia peroleh dari waralaba master, 200 cup nya ia bagikan gratis kepada semua orang yang lewat di depan outletnya. “Biar tekor asal tersohor,” katanya. Semboyan tersebut sengaja ia pakai agar minuman dengan harga Rp 8 ribu itu, dikenal oleh banyak orang. Maklumlah di Kecamatan Rogojampi yang notabene kota kecil, minuman dengan harga sekian termasuk high class alias tak semua masyarakat menjangkaunya. Lantaran mereka lebih memilih minuman sasetan yang juga menyegarkan, tapi cukup mengeluarkan uang Rp 1 ribu saja. Rasanya sama segarnya tetapi murah harganya.

Kini setelah setahun membuka outlet minuman coklatnya, Iin menjelaskan bahwa untuk menjual 500 cup cukup 2 minggu saja. Karena sangat laris, diriku pun mulai penasaran dengan rasa minuman ini. Kebetulan ada varian baru, fruity chocolate yang macam. Semakin penasaran, bagaimana rasanya ya coklat bercampur buah. Aku pilih varian chocolate melon, cukup menunggu kurang dari lima menit, dan minuman tersebut sudah tersaji di depan mataku. Sedikit kuaduk-aduk menggunakan sedotan, busanya yang lembut melambai-lambai ingin segera diseruput. Akhirnya tak tahan lagi, langsung saja ku seruput mak bless. Terasa segar, manis, lembut, fruity banget saat minuman itu masuk ke mulutku.

Setelah selesai menyeruput minuman tersebut hingga tetes terakhir, saatnya aku berpamitan kepada sang narasumber. Ketika tangan mulai menyodorkan uang lembar berwarna biru, dia justru menolak.

“Gak usah mas, simpan saja,” katanya.

“Yang benar mbak?, wah gak enak sendiri saya,” gayaku seolah menolak gratisan. Hehehe

“Iya benar kok mas, gak apa-apa,” dirinya semakin memaksa.

Mungkin ini rejeki si kuli tinta, dapat minum gratis dari empunya. Kata terima kasih langsung ku sampaikan padanya. Tak lupa juga bibir ini berkomat-kamit melafalkan hamdalah. Sebenarnya pengalaman gratisan seperti ini, bukanlah yang pertama kali. Karena sebelumnya beberapa kali aku sudah mengalaminya.

Cappuccino Special

DSC02007
Tampilan Cappuccino Special di Kedai Ipok Ngeri

Hampir semua orang tahu tentang nikmatnya salah satu minuman kopi yang disebut kapucino atau Cappuccino. Minuman kopi yang dicampur dengan susu dan coklat tersebut, memang bikin ngiler para pecinta minuman kopi yang soft.

Meskipun termasuk minuman varian kopi, kapucino juga sering diinovasi lagi oleh para barista (penyaji kopi). Salah satunya adalah minuman yang disebut Cappuccino Special yang ada di kedai “Ipok Ngeri”.

Menurut salah satu pengelola kedai tersebut, variasi minuman kopi ini sengaja diciptakan. Spesial untuk para wanita yang nongkrong di kedainya, tetapi tidak menyukai kopi hitam. “Dan kapucino sendiri memiliki rasa lebih soft, bila dibandingkan dengan kopi biasa,” ujar Heri pengelola kedai tersebut.

Dengan demikian para wanita yang berkunjung ke kedai di jalan raya Rogojampi tersebut, tak perlu khawatir soal minuman. Soal rasa dari minuman Cappuccino Special pun tak diragukan lagi, karena selain bubuk kapucino pilihan yang digunakan juga ada beberapa topping pilihan. Untuk satu gelasnya, minuman ini biasa dihargai Rp 10 ribu.

 

Cappuccino Special

Bahan – bahan

  • Bubuk Cappuccino
  • Air Mineral
  • Es Krim
  • Keju
  • Meses
  • Choco Chip
  • Wafer
  • Chocolate Stick
  • Es Batu

Cara Membuat Cappuccino Special

  • Tuang bubuk Cappuccino ke dalam blender
  • Tuangkan air mineral ke dalam blender
  • Masukkan potongan es batu ke dalam blender
  • Blender semuanya hingga tercampur rata
  • Tuang bahan yang sudah tercampur tersebut ke dalam sebuah gelas
  • Beri es krim secukupnya
  • Beri parutan keju, meses, choco chip, wafer, dan chocolate stick
  • Cappuccino Special bisa dinikmati

Mencari Jodoh Di Ujung Jari

jodoh-ujung-jari2
ilustrasi (net)

“Mas nampaknya kita harus mengakhiri keinginan kita menikah muda. Orang tuaku ingin diriku menjadi orang sukses, sebelum aku menikah. Dan ini satu-satunya caraku untuk membahagiakan mereka. Aku tak tahu sampai kapan aku harus berjuang agar menjadi orang sukses. Tak usah kau tepati janjimu untuk menikahiku. Carilah wanita lain, karena aku tak ingin dirimu menungguku terlalu lama. Menua, terlunta-lunta, dan biarkan aku berusaha mewujudkan keinginan orang tuaku. Maafkan aku yang sudah bersikap egois,” itulah petikan pesan dari Nuri yang Alif terima melalu WA (Whatsapp).

Tak tahu harus menanggapi seperti apa, perasaan Alif kepada gadis itu yang sudah terlanjur tertanam, jauh di dalam lubuk hatinya. Sekonyong-konyong semua terasa hancur lebur, impian membina rumah tangga yang sakinah mawaddah warrahmah pun, tak akan pernah kesampaian bersama gadis asal Blora itu.

Pertemuan Alif dan Nuri berawal dari sebuah grup membaca di WA. Waktu itu Nuri mengirim sebuah pesan pribadi ke Alif, yang mana dia meminta bantuan kepadanya untuk mencarikan sebuah buku. Tapi pria ini menjawab bahwa dia hanyalah seorang yang baru mencintai dunia literatur. Dan mengaku bahwa dirinya hanyalah seorang petani, mana mungkin jika memiliki buku yang sedang dicari Nuri. Sedangkan Nuri sendiri adalah mahasiswa di tahun pertama. Dengan jurusan Sospol (sosial politik), meskipun sebenarnya dia ingin masuk jurusan pertanian.

Seringnya percakapan melalui WA yang dilakukan mereka berdua, ternyata membuat keduanya semakin akrab. Di saat itulah si Alif mulai memberanikan diri bertanya tentang status Nuri.

“Apa kamu punya pacar,” tanya singkat seorang yang berasl dari ujung timur pulau Jawa itu.

“Aku gak punya, dan gak mau pacaran,” balasnya

Sama aku juga gak punya, pengennya ta’aruf saja

Gimana kalau kita ta’aruf saja?

Tanya Alif semakin blak-blakan kepada gadis itu.

Dia pun mempertegas dengan sebuah pertanyaan tentang keseriusan Alif.

Yang benar kamu ingin serius?

Pria ini pun menyampaikannya bahwa dia memang benar-benar serius.

Dari keinginan mereka untuk berta’aruf, keduanya saling memberi tahu tentang kondisi keduanya. Nuri menjelaskan bahwa dia hanyalah seorang mahasiswa dari keluarga yang tak punya. Anak terakhir dari empat bersaudara, dan tinggal bersama keluarganya di sebuah rumah kontrakan. Di kontrakan tersebut selain bersama kedua orang tuanya, Nuri juga ditemani dengan kakak ketiganya. Sedangkan kedua kakaknya yang lain tinggal di perantauan luar Jawa.

Sebelumnya orang tua Nuri adalah seorang pengusaha besar, namun mereka mengalami kebangkrutan. Yang pada akhirnya membuat rumah keluarga satu-satunya, terpaksa digadaikan untuk melunasi semua hutang-hutang. Dan kini harus tinggal di kontrakan pinggiran kota Blora.

Sementara itu Alif menceritakan bahwa dia juga berasal dari keluarga kecil, dengan ayah hanyalah kuli bangunan dan ibunya seorang ibu rumah tangga biasa. Dia adalah anak sulung dari dua bersaudara, dan adik perempuannya masih duduk di bangku taman kanak-kanak.

Dengan komitmen yang mereka buat bersama, hampir setiap hari mereka saling berkomunikasi. Sampai suatu saat Nuri meminta Alif untuk segera meminta kepada kedua orang tuanya, agar segera disunting. Perasaan Alif pun merasa kebingungan karena dia menjadi harapan kedua orang tuanya, dan juga keinginannya bisa melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. Selain itu menikah ketika karir masih di bawah membuat Alif bimbang. Bagaimana dia bisa menghidupi Nuri kelak. Tapi di kala kebimbangan tersebut, Nuri meyakinkannya bahwa menikah adalah soal berjuang bersama pasangan. Dan pada saat itu pula dia meminta pendapat kepada ibunya tentang perihal menikah.

“Bu, bolehkah aku menikah dalam waktu dekat,” tanyanya

” Itu terserah kamu, ibu tak melarang. Tetapi ibu dan bapakmu tak bisa membantu untuk urusan biaya, memang kondisinya sedang paceklik,” seloroh sang ibu.

Tak apalah bu, aku hanya ingin menikah sah di mata agama dan hukum.

Tidak perlu acara yang besar.

Pernyataan tegas itulah yang disampaikan si Alif kepada sang ibu. Dengan kabar baik tentang ibunya yang sudah setuju soal pernikahan, akhirnya Alif mengabarkan kepada Nuri. Keduanya semakin memantapkan dengan mimpi-mimpi berumah tangga bersama. Sampai akhirnya gadis itu bercerita tentang suatu penyakit yang ia idap. Dan Nuri memohon kepada Alif agar keinginan untuk menikah diundur, minimal penyakit yang diidapnya sembuh atau pendidikan yang ia tempuh kelar terlebih dahulu. Tanpa berkomentar panjang Alif pun mengiyakannya.

Namun semua itu ternyata kandas, saat Nuri menyampaikan keinginannya membahagiakan orang tuanya. Menjadi orang sukses setelah dia lulus kuliah. Seakan mendapat pukulan telak pada ulu hatinya. Semuanya hambar, itulah yang Alif rasakan saat membaca pesan terakhir Nuri. Tetapi tak mau bersedih karena sudah terlalu berharap jauh kepada gadis itu. Kata-kata seorang guru bijak nampak jelas di kepala Alif.

Jadilah Bumi, elemen yang selalu sabar saat dia terinjak atau diinjak. Saat disiram dia menyerap. Dan justru menumbuhkan benih-benih kehidupan dari dalam dirinya. Satu hal lagi, bumi tak pernah dendam dan juga bersifat netral.

Adapted from life teacher.

Tulusnya Cinta Mbah Katemun

WP_20160509_11_35_57_Pro
Mbah Rupiah dan Mbah Katemun

Di hari kedua mencacah data sensus di lapangan, terlihat jelas sebuah rumuh tua dengan pintu tertutup. Ku coba teriakkan salam, tapi tak ada balasan. Akhirnya ku langkahkan kaki ini menuju bagian belakang rumah tersebut lewat samping, benar saja penghuninya sedang di dapur. Dan saat ku ucapkan salam seorang wanita tua, ya wanita tua itu membalas sembari mengelap daun-daun pisang di tangannya. “Maaf siapa ya?,” ucapnya dengan penglihatan kosong, mendongakkan kepalanya. “Maaf ya dek saya gak bisa lihat,” imbuhnya.

“Petugas sensus ekonomi mbah (nenek dalam bahasa Jawa),” sahutku.

Dia pun menyilahkanku masuk ke dalam rumahnya. Aku pun menyadari kalau dia tak bisa menggunakan penglihatannya itu.

“Pak, tolong ini  ada petugas sensus,” memanggil suaminya yang sedang di kamar mandi.

Keluarlah seorang lelaki tua, dan mempersilahkanku duduk di atas dipan. Aku pun  mulai menanyakan nama beliau dan usahanya.

“Namanya siapa mbah?,” tanpa basa basi panjang

“Katemun dek,” dengan suara lirihnya.

“Usahanya jualan tempe ya mbah?,” karena aku tahu di samping dipan yang ku duduki, ada kedelai yang nampak bersih dan sudah selesai direbus.

“Iya dek, tapi cuma sedikit,” sambil memperlihatkan ekspresi ketakutan. Mungkin dia mengira, kegiatan sensus ini akan memberatkannya dengan segala macam pajak penghasilan. Situasi ketakutan seorang responden memang wajar dalam sebuah survei seperti ini. Namun ku coba jelaskan, bahwa sensus ini tidak ada hubungannya dengan pajak. Tetapi sekadar mendata berapa banyak usaha yang ada di desaku, Desa Kebaman.

Dia pun mulai bercerita bahwa dalam sehari, dirinya dan istrinya mbah Rupi’ah memproduksi tempe hanya beberapa biji. Yang mana rata-rata membutuhkan 6 kg kedelai saja. Sementara untuk memasarkannya, mbah Katemun melakukannya sendiri dengan mengayuh sepeda sejauh yang dia mampu.

Selepas mendapat data mengenai usaha mbah Katemun, aku mulai bertanya mengenai penglihatan mbah Rupi’ah. Dia menimpali bahwa istrinya buta permanen, karena sebuah penyakit yang disebut flu koma. Suatu penyakit yang terasa asing dalam otakku, karena baru pertama kalinya mendengar nama penyakit ini.

Awalnya mbah Rupi’ah hanya sakit mata biasa, yang kemudian matanya sedikit rabun. Suaminya mengira kalau itu adalah katarak, ketika dibawa ke spesialais mata ternyata bukan katarak tetapi penyakit yang disebut flu koma. “Dia hanya bisa melihat wajah saya seminggu saja, saat awal penikahan kami,” katanya. Dan itu sekitar 15 tahun silam, karena kedua mbah ini kebetulan pasangan janda dan duda yang bertemu 2001 silam. Meski demikian rasa cinta dan kasih mbah Katemun pada istrinya begitu luar biasa. Semua pengobatan mulai tradisional hingga spesialis mata kekinian, sudah ia datangi agar istrinya bisa melihat kembali. Namun itu semua nihil tanpa hasil sama sekali. Bahkan semua sawah yang ia miliki sudah habis terjual demi kesembuhan sang istri.

Sebenarnya dulu pernah ada kabar gembira, di saat operasi mata pertama bahwa mbah Rupi’ah bisa melihat dirinya walaupun samar-samar. Tetapi di sesi pengobatan berikutnya ternyata penglihatan sang istri justru semakin parah, dan tidak bisa melihat total.

Keseharian dua lansia ini hanya sendirian, karena anak-anak mereka sudah berumah tangga dan merantau ke pulau Dewata. Karena tidak ada sang anak, maka hanya mbah Katemun lah yang memandu mbah Rupi’ah di saat dia butuh panduan. Misalnya ketika ingin ke kamar mandi atau menyeberang jalan. Inilah yang kadang membuat mbah Katemun merasa tak tega di kala pagi harus pergi berjualan tempe, meninggalkan sang istri sendirian tanpa ada yang memandu. “Saya takut terjadi apa-apa,” ucapnya dengan pandangan kosong.

Mendengar kisah mereka berdua membuat diri ini merasa kurang syukur sekali. Karena selama ini diriku selalu mengeluh soal ini dan itu. Tapi mereka menjalani kehidupan yang begitu menerima, mensyukuri dan melengkapi satu sama lain. Semoga mereka berdua selalu diberi kesehatan, keselamatan dan rejeki yang barokah.

Gurih, Manis Legitnya Tape Ketot

IMG-20160513-WA0011
Tape ketot dengan topping keju

Mungkin bagi teman-teman sudah tak asing lagi, dengan jajanan tradisional berjuluk jadah.Di kotaku Banyuwangi, jajanan ini disebut ketot. Jajanan yang rasanya gurih tersebut juga sering divariasi dengan tape ketan. Atau yang lebih dikenal dengan istilah tape ketot. Setelah sekian lama tak ada kabarnya, baru kemarin aku temui jajanan itu di salah satu kafe berjuluk Garus (Galeri dan Warung Using). Menurut Aris Santi Aji pemilik kafe tersebut, tape ketot menjadi panganan yang paling diminati pelanggan. “Sehari bisa 4 porsi besar,” ujarnya padaku.

Di kafe milik Aris ini, tape ketot dijual dengan dua macam ukuran. Yakni ukuran porsi besar yang biasa dihargai Rp 40 ribu, dan kecil dengan harga Rp 20 ribu. “Tapi kalau sekedar makan dinikmati disini, porsi biasa cukup Rp 10 ribu,” ucapnya.

Ibu dua orang putra ini menyarankan konsumennya untuk memesan dahulu, sebelum nantinya menikmati tape ketot buatanya. Pasalnya jika memesan terlebih dahulu, maka pelanggannya bisa menikmati dalam keadaan hangat. “Karena lebih nikmat kalau dimakan saat hangat,” imbuhya.

Meski hanya mempromosikan tape ketot buatannya lewat media sosial, Aris mengaku bahwa banyak pelanggan luar kota yang juga berminat. Seperti pelanggan dari Kudus dan Jakarta, yang senantiasa memesan jajanan tersebut. “Kalau untuk Jakarta saya lebih menyarankan tapenya saja, tidak dengan ketotnya,” katanya. Hal ini karena ketot tidak bisa bertahan lama bila dibandingkan dengan tape.

Dalam sehari wanita ini bisa menghabiskan 4 kilogram beras ketan. Beras ketan impor menjadi pilihannya dalam membuat tape dan ketot. “Karena kualitasnya yang bagus,” tegasnya.

 

Cara Membuat Tape Ketot

 

Bahan-bahan tape ketan

  1. Beras ketan
  2. Ragi tape
  3. Pasta pandan

 

Langkah-langkah

  1. Cuci bersih beras ketan, panaskan kukusan, beras ketan langsung masukkan dikukusan
  2. Lalu angkat beras ketan yg sudah dikukus, taruh di baskom dan kucurkan di air, buang air pertama yg masih panas, lalu cuci lagi sampai bersih
  3. Cuci berulang-ulang hingga terasa keset ditangan, dan beras ketan tidak terasa licin lagi dan mengahsilkan air yg jernih
  4. Jika sudah bersih sisakan air di atas beras ketan melebihi tinggi beras sedikit saja, lalu beri pasta pandan secukupnya
  5. Lalu rendan kurang lebih 15 menit agar menghasilkan warna yg hijau cantik
  6. Tiriskan beras ketan yang sudah diberi pasta tadi, lalu kukus lagi sampai matang kurang lebih 30 menit
  7. Jika sudah matang angkat dan tempatkan di tempat yg datar, misalkan loyang kue kering, angin-anginkan sampai benar-benar dingin
  8. Setelah dingin beri ragi yg sudah dihaluskan lalu taburkan sampai rata
  9. Masukkan ke tempat toples kedap udara atau bungkus dengan daun pisang, dan biarkan sampai proses fermentasi bereaksi hingga mengeluarkan air tape. Selama 3 hari tape ketan sudah bisa dimakan

 

Bahan-bahan ketot/jadah

  1. Beras ketan
  2. Kelapa muda parut
  3. Santan kental
  4. Garam

 

Langkah-langkah

  1. Rendam beras ketan 2 jam, kemudian cuci bersih dan tiriskan
  2. Panaskan kukusan, lalu masukkan beras ketan, kukus 15 menit, angkat dan tempatkan di wadah.
  3. Didihkan santan bersama garam, aduk-aduk agar santan tidak pecah, jika mendidih langsung matikan api
  4. Siram kukusan beras ketan tadi dg santan, lalu aduk rata.
  5. Tambahkan kelapa parut aduk rata kembali, sisihkan. Kemudian panaskan kukusan dan kukus lagi selama 30 menit/sampai matang.
  6. Taruh ketan yg sudah matang di wadah yg dialasi plastik, tumbuk sampai halus (pake ulekan dengan dibungkus plastik)
  7. Jika sudah halus, taruh ditempat lain yg dialasi plastik dan ratakan diamkan hingga dingin.
  8. Lalu potong-potong ketot/jadah, sesuai selera
  9. Sajikan bersama dengan tape ketan

 

Kafe Garus

IMG-20160512-WA0046
Suasana di kafe Garus

Topik kafe minggu lalu menjadi bahasan utama di media tempatku bekerja. Alasan redaktur karena di Kota Banyuwangi mulai menjamur kafe. Tetapi ternyata ini menjadi dilema, karena mereka kebanyakan tak memiliki ijin usaha.

Waktu deadline kurang sehari lagi, dan ku putuskan untuk datang ke salah satu kafe dimana aku buat janji hari Rabu lalu. Namun nahas ternyata kafe tersebut belum buka saat ku datang kesana. Padahal menurut pengelolanya jam 3 sore sudah buka, tetapi meski waktu sudah menunjukkan pukul 4 masih belum buka. Aku baru sadar kalau ini hari Kamis atau malam Jum’at, jelas saja kafe ini libur. Akhirnya ku lanjutkan ke kota Banyuwangi untuk mencari kafe-kafe yang lain. Ternyata sama saja karena hampir setengah jam keliling, tak satu pun kafe yang buka di malam Jum’at. Apakah malam Jum’at segitu sakralnya atau semua pemilik kafe pada pergi tahlilan. Hahaha

Baru ingat diri ini bahwa ada orang tua salah satu murid lesku yang punya kafe. Ahaaa! langsung saja aku meluncur kesana. Setelah minta ijin buat liputan, dia pun ternyata setuju. Pertanyaan pun mulai ku gelontorkan satu per satu, dan hasilnya ku rangkai di tulisan ini setelah sedikit editan.

Nama kafenya adalah Galeri dan Warung Using (Garus). Berawal dari keinginannya sejak sekian lama, memiliki sebuah kafe. Aris Santi Aji bersama Nur Holil sang suami, baru bisa mewujudkannya sekitar 3 bulan lalu keinginan mereka. Butuh modal yang lumayan untuk membangun kedai mereka, yang hampir semua bagiannya asli bekas rumah adat suku Using. “Hampir seratus lima puluhan juta, untuk bangunannya saja,” ujar Aris. Disain kedai dengan model rumah adat Using, sengaja dipakai untuk kedainya. Karena sang suami adalah seorang pecinta seni Banyuwangi.

Dengan disain tradisional itu pula, para pengunjung bukan hanya sekedar menikmati minuman dan makanan saja. Tetapi mereka juga bisa menikmati suasana asri bak rumah Using di tempat asalnya. Dengan konsep galeri yang ditawarkan, tak heran jika selain perabotan antik, aneka foto pun juga dipajang di tempat ini. “Kebetulan suami juga suka fotografi,” ucap ibu dua orang anak tersebut.

Terkadang kafe yang berada di lingkungan perumahan, di jalan Ikan Wijinongko ini juga menjadi tempat hunting foto. Bukan hanya pengunjung tetapi juga para fotografer di Banyuwangi. “Pernah dijadikan studio oleh salah satu televisi lokal,” ujar mantan karyawan leasing tersebut. Banyak para pengunjung baru yang bertanya soal mengambil foto di kedainya, gratis atau berbiaya. Wanita ini menyahutnya bahwa di kedainya free kalau mau pinjam buat ambil foto.

Kopi bukanlah minuman yang menjadi favorit pengunjung di kafe Garus, karena para pelanggan lebih suka aneka minuman dan makanan berbahan tape. “Untuk minuman, paling sering es tape yang dicari pengunjung di sini,” ucapnya. Sedangkan untuk menu favoritnya adalah tape ketot, salah satu jajanan Banyuwangi. Menu tape ketot, menjadi buruan pengunjung lantaran sudah sangat langka di Banyuwangi. Selain itu menu ini menurut Aris, rasa gurih dan manis legitnya membuat pengunjung ketagihan. Adapun bila pengunjung ingin menikmati kopi, wanita ini juga menyediakan kopi khas Desa Kemiren. Dirinya tidak menyediakan kopi sachet-an, karena kualitas rasanya yang kurang sedap.

Saat awal membuka kafe Garus, Aris dan Holil sempat khawatir dikomplain para tetangga. Karena letaknya di tengah perumahan. “Tetapi seiringnya waktu, tetangga juga memaklumi,” kenangnya. Terkadang tetangganya juga membeli hidangan di kafe mereka.

Sementara saat dikonfirmasi tentang ijin sebuah kafe, wanita ini mengatakan tidak adanya ijin khusus. Hanya saja ia sedang mengurusi ijin kafe yang berhubungan dengan pajak pendapatan. “Kalau ijin yang itu, masih dalam proses,” imbuhnya.

Tak ada promosi khusus,yang dilakukan pasutri (pasangan suami istri) ini, mereka hanya menggunakan sosial media. Serta dari para pengunjung yang datang inilah, terjadi informasi yang menyebar. “Bisa dikatakan gethok tular,” ucapnya.

Dalam menjalankan kedai miliknya, mereka berdua dibantu dua orang saja. Yang mana satu orang bertugas di kafe, sedangkan yang lain di rumah. Aris lebih memilih terjun langsung, sehubungan dengan semua urusan kedainya. Dengan terjun langsung, dia juga bisa belajar. Ia khawatir jika tidak mengerti seluk beluk kedainya, maka di saat para karyawan tidak ada, maka ia akan kerepotan karena tidak mengerti.

Kafe Garus ini setiap minggunya buka dari Senin hingga hari Sabtu. Dengan waktu buka mulai dari jam 10 pagi sampai jam9 malam. Tetapi terkadang juga sampai jam sebelas, saat ada pengunjung yang ingin merasakan suasana tenang. “Terutama buat yang suka kontemplasi atau juga menulis,” ucapnya. Namun bila lewat dari waktu tersebut, terkadang Holil meminta dengan sopan agar pengunjung melanjutkan bincang-bincang di kafenya, di esok harinya.

Anxious_Rahman

 

Masa Remaja

DSC01968
Para sobat muda  

Tak terasa waktu berjalan dengan cepat , kawan. Rasanya baru kemarin sore, diri ini duduk di bangku sekolah menengah, sama seperti mereka yang berseragam di foto ini. Dan aku sadar bahwa kini aku sudah berubah dewasa dari seorang anak desa ingusan.

Masa-masa remaja memang adalah masa yang paling menyenangkan. Saat bersama para siswa, diriku merasa kembali ke masa itu. Masa penuh dengan suka duka saat bersekolah di kota. Menghabiskan waktu bermain dan tinggal mandiri di kosan, jauh dari orang tua. Seandainya mesin waktu itu ada, aku ingin menjadi orang pertama yang kembali ke masa tersebut. Namun itu hanyalah imajinasi sebuah filem Time Machine yang beberapa kali pernah ku tonton. Filem yang memang sangat atraktif, menceritakan seorang ilmuwan yang berusaha mati-matian menciptakan mesin waktu. Tapi sudahlah, lupakan saja soal filem tersebut dan kembali ke dunia nyata. Dunia realita dengan sejuta tantangannya, dari yang mudah hingga tersulit.

Sengaja aku ambil foto ini tadi pagi, karena tak ingin ketinggalan momen bersejarah ini. Aku tak tahu akan berapa lama lagi bersama mereka, yang sebentar lagi naik ke kelas XI (sebelas). Hanya ini yang bisa kulakukan, mengabadikan saat dimana bisa melihat mereka yang semakin tumbuh dewasa. Mengingat suasana kelas yang riang penuh canda tawa. Berbagi cerita suka duka di masa muda dengan mereka. Dan kelak kisah para kawan muda ini, akan ku bagikan kepada generasi selanjutnya.

Sedikit mengutip dari Henry Van Dyke, “Waktu terlalu lambat bagi orang yang menunggu; waktu terlalu cepat (datang) bagi orang yang takut; waktu terlalu lama bagi orang yang berduka; waktu terlalu singkat bagi orang yang bergembira; tapi bagi orang yang mencinta, waktu tidaklah demikian.”

Rogojampi-Di kelas tercinta

Ayo Bersih-Bersih

DSC01957
Murid-murid sedang membersihkan kelas

Memang sewajarnya yang namanya kebersihan itu adalah hal yang utama. Seperti yang agama ajarkan bahwa kebersihan adalah sebagian daripada iman. Mengajarkan kebersihan kepada para remaja ternyata tak semudah berbicara. Karena kita juga harus memberi contoh pada mereka sembari memotivasinya.

Ditambah lagi dengan spirit para remaja di sekolahku yang kebanyakan adalah laki-laki. Mereka selalu mau menang sendiri dan jarang mau mendengarkan kata orang lain. Bagi yang pernah muda tentunya tak bisa memungkiri hal ini. HEHE

Seperti yang terjadi di sekolah pagi ini, saat bel sudah berbunyi dan menandakan pergantian pelajaran. Ini saatnya diriku masuk ke kelas, memberi mata pelajaran bahasa Inggris. “Assalammu’alaikum,” sapaku saat baru masuk kelas. “Wa’alaikum salam,” sorak murid-murid dalam kelas.

Kulihat dalam kelas banyak kertas dan plastik minuman yang berserakan, bahkan ada juga yang dibiarkan menumpuk di dalam sekop sampah. “Ayo yang piket siapa ini?,” tanyaku. Lama tak ada yang mengaku, akhirnya ku ajak mereka membersihkan kelas bersama-sama. Sebagian ada yang antusias dan sebagian apatis, tak peduli dan hanya asik bermain gadgetnya. Namun hanya ku sindir saja anak-anak dengan tipe demikian.

Setelah selesai bersih-bersih, ku beri sedikit mereka pencerahan. Haha diriku bak seorang messenger saja. “Menjaga kebersihan bukan hanya kewajiban petugas kebersihan,” teriakku dengan suara serak di tengah keriuhan mereka. “Iya pak, kebersihan tugas kita semua,” celoteh salah seorang murid. “Kalau sudah tahu kenapa tidak dilakukan,” timpalku. Dan mereka pun terdiam sejenak, setelah ramai berceloteh satu sama lain. Langsung saja ku tambahkan, bahwa mereka harus bersyukur karena semua peralatan kebersihan sudah disediakan sekolah. Dan mereka hanya tinggal menggunakan saja.

Rogojampi-Sekolah Tercinta

 

 

Helm Kreasi Unik

DSC01831
Helm kreasi karya Romi

Terima kasih buat semua teman-teman yang sudah komen di judul sebelumnya. Cerita ini adalah rangkuman seputar lika-liku si Romi membuat helm kreasinya. Mungkin memang benar kode etik jurnalistik sudah saya langgar.Karena saya tidak bisa memenuhi apa yang ia inginkan, tetapi di media cetak sama sekali tidak saya sebutkan latar belakang Romi sebagai mantan wartawan.

Helm Kreasi Unik

Motif yang unik dan alami, itulah yang tampak dari helm kreasi Romi Sahroni ini. Yang mana memanfaatkan limbah tempurung kelapa, potongan kain batik dan helm bekas sebagai bahan dasarnya. Semua bahan-bahan tersebut tak sulit Romi peroleh, karena semua tersedia di sekitar rumahnya. “Ya seperti helm bekas biasanya ada tetangga yang jual kesini,” ujarnya.

Helm bekas biasa dia beli dari tetangganya dengan harga Rp 50 ribu. Alasan memilih helm bekas sebagai bahan dasar, karena menurut Romi sayang sekali bila harus memakai helm baru yang kemudian harus dikreasi menjadi helm bermotif. Di sisi lain harga helm baru lebih mahal dibandingkan dengan helm bekas. Akhirnya mau tak mau helm kreasi dijual dengan harga yang lebih mahal. “Dan itu kurang menarik bagi konsumen, nantinya,” ucapnya.

Ide awal pembuatan helm kreasi tersebut,dilakoni Romi karena hobinya yang suka sekali bereksperimen dengan barang bekas dan limbah. “Dan saya juga suka sekali dengan seni,” kata pria yang tinggal di Tegaldlimo tersebut. Seni memang melekat sekali pada diri pria ini, bahkan selain helm dirinya juga membuat kerajinan lain yang juga berasal dari barang bekas dan limbah. Diantaranya kerajinan kurungan dari limbah kayu, dan tempat tissue dari potongan kain batik.

Saat masih aktif membuat helm bermotif batik dan tempurung kelapa, pria ini bisa memproduksi helm kreasi dalam jumlah yang lumayan banyak. “Untuk motif batik sehari bisa memproduksi 4 helm,” katanya. Hal ini lantaran untuk membuat helm kreasi bermotif batik tak butuh waktu lama. Sedangkan untuk helm bermotif tempurung kelapa, seminggu Romi bisa memproduksi 4 buah saja.

Helm kreasi bermotif tempurung kelapa lebih lama pengerjaannya, lantaran menurut alumni IKIP Jember tersebut, helm motif ini memiliki tingkat kerumitan yang tinggi saat mencocokkan warnanya. Dimana agar helm tersebut tampak bagus, maka warna setiap potongan tempurung kelapa diseleksi dengan teliti. Selain itu juga membutuhkan tahap penghalusan permukaan tempurung kelapa. “Karena semua saya kerjakan sendiri,” katanya.

Harga yang dibanderol oleh Romi untuk helm kreasi buatannya berkisar antara Rp 200 ribu hingga Rp 250 ribu. Harga tersebut menurutnya adalah wajar karena melihat proses pembuatannya yang sedikit rumit. “Selain itu karena bahan bakunya helm bekas, yang harganya masih lumayan mahal,” paparnya.

Meski dianggap unik dengan motif batik dan tempurung kelapa, ternyata tak membuat helm-helm ini banyak diminati. Hal tersebut membuat Romi menghentikan produksi helmnya saat baru mengijak usia 3 bulan. Tetapi saat awal produksi, helm-helm kreasi tersebut banyak yang memburu. Menurutnya ada beberapa faktor, kenapa helm kreasi tak begitu diminati oleh masyarakat. Diantaranya adalah warna helm yang memudar saat pemakaian selama 8 bulan. “Itu untuk helm bermotif batik,” katanya. Hal tersebut lantaran pelapis kain batik pada helm hanya mampu bertahan dalam waktu tersebut.

Sedangkan untuk helm kreasi bermotif tempurung kelapa bisa bertahan selama 12 bulan. Lebih lama karena tempurung kelapa tahan dengan cuaca. Faktor yang selanjutnya adalah lokasi penjualan produksi yang jauh sekali dari kota. Sehingga banyak pelanggan yang enggan datang ke rumah Romi yang susah dijangkau. “Sebenarnya banyak pesanan tapi ya itu tadi, jauh akhirnya malah jemput,” katanya yang hanya mengandalkan diri sendiri untuk semua proses pembuatan helm kreasi. Dan yang terakhir bagi Romi adalah faktor modal, karena untuk mengembangkan lebih besar lagi dirinya membutuhkan modal. Terutama untuk membuat tempat pemasaran dan produksi di lokasi yang agak strategis dari rumahnya yang susah dijangkau.

Untuk hal pemasaran, sebenarnya sulung dari bersaudara ini pernah mendapat tawaran dari Disperindagtam (Dinas Perindustrian Perdagangan dan Pertambangan). Yaitu dengan mengikuti pameran, namun dengan alasan tertentu dia menolak tawaran tersebut. Selain itu juga dengan mengikutkan helm kreasi ke BUMDES (Badan Usaha Milik Desa), tetapi menurutnya belum ada respon. “Jadi karena faktor-faktor tersebut, maka saya hentikan untuk sementara,” selorohnya.

Baby Face Berkumis

kumisku
ilustrasi kumis (net)

Siang ini sepulang merampungkan tugas mengajar, aku berkujung ke panti asuhan seperti biasanya. Terbersit dalam benak kalau ingin menulis tentang kumis tebalku.

Baru sadar diriku bahwa dengan berkumis penampilan menjadi tampak lebih tua dari usia sesungguhnya. Masih ingat pertanyaan salah seorang murid tadi pagi. “Pak umur berapa ya?,” tanyanya. “Mau jalan 25, kenapa?,” balasku sambil bertanya kembali. Dia terdiam sejenak mendengar yang ku lontarkan. “Kamu gak percaya ya?,” selorohku. “Bukannya gak percaya pak, tapi kelihatan umur 30,” jawabnya sedikit takut. Hah masa iya sih aku kelihatan tua banget.  Langsung saja ku lihat foto-fotoku yang ada di kamera saku. Wah benar nih, kumis tebal membuatku jauh lebih tua dari usia sesungguhnya.

Kisah awal memelihara kumis, sebenarnya sejak beberapa minggu yang lalu. Yang ku bayangkan saat memiliki kumis, maka aku terlihat lebih gagah dari biasanya. Maklumlah karena meskipun hampir 25, wajahku termasuk masih muda alias baby face. HEHE

Dengan alih-alih terlihat lebih muda dengan murid-muridku, makanya jalan satu-satunya kupelihara kumis, selain jenggot yang sudah membentang di dagu. Kalau seperti ini kompleks deh yang ku miliki.

Pulang sekolah ku coba untuk menengok kembali ke cermin. Benar-benar amazing tidak hanya terlihat gagah tetapi diriku terlihat jauh lebih tua. Seperti orang yang sudah beristri dan beranak dua. HAHA

Jadi kesimpulannya buat laki-laki yang ingin terlihat macho atau buat ibu-ibu yang ingin suaminya terlihat gagah, lebih baik pelihara kumis Yaaa.

Rogojampi-Panti Asuhan Husnul Khotimah